Menjaga Kearifan Tradisional, Menguatkan Petani Kecil, dan Meneguhkan Kedaulatan Pangan

Abah Parma
Petani Organik Kampung Cijulang, Desa Sukaharja, Kecamatan Cijeruk Kabupaten Bogor
Menjelang akhir tahun, Jaringan Kearifan Tradisional Indonesia (JKTI) melakukan refleksi atas perjalanan petani kecil organik, masyarakat adat, dan komunitas lokal yang selama ini menjadi penopang utama sistem pangan berkelanjutan di Indonesia. Di tengah krisis iklim, tekanan ekonomi, dan ketidakpastian global, kearifan tradisional kembali terbukti sebagai fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan pangan, lingkungan, dan kehidupan komunitas.
Sepanjang tahun ini, petani kecil dan masyarakat adat menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Perubahan iklim mengganggu pola tanam, bencana ekologis meningkat, dan sistem pasar yang tidak adil masih meminggirkan produksi pangan skala kecil. Di sisi lain, pengetahuan tradisional, benih lokal, dan praktik pertanian organik rakyat belum sepenuhnya mendapatkan pengakuan dan perlindungan kebijakan.
Namun demikian, JKTI mencatat bahwa komunitas terus bertahan dan berinovasi dengan bertumpu pada kearifan tradisional. Praktik agroforestri, tumpangsari, penggunaan pupuk alami, pengelolaan wilayah berbasis adat, serta pembelajaran kolektif melalui sekolah lapang dan pertukaran pengetahuan antarwilayah menjadi bukti nyata daya lenting komunitas.
Sebagai jaringan, JKTI memandang solidaritas dan kerja sama sebagai modal utama. Sepanjang tahun, penguatan organisasi komunitas, pengembangan Sistem Penjaminan Partisipatif (PGS), pasar komunitas, dan koperasi rakyat terus didorong sebagai bagian dari upaya membangun sistem pangan yang adil, transparan, dan berdaulat.
Catatan akhir tahun ini juga menjadi pengingat pentingnya keberpihakan kebijakan negara kepada petani kecil dan masyarakat adat. Pengakuan hak atas tanah, wilayah kelola, benih, dan pengetahuan tradisional merupakan prasyarat utama bagi terwujudnya kedaulatan pangan nasional.
Menatap tahun mendatang, JKTI berkomitmen untuk terus memperkuat peran jaringan sebagai ruang belajar, advokasi, dan solidaritas. Dengan menjaga kearifan tradisional dan memperkuat petani kecil, JKTI meyakini bahwa masa depan pangan Indonesia yang adil, lestari, dan berdaulat dapat diwujudkan bersama.
Bogor, 19 Desember 2025
Rasdi Wangsa



Leave a Reply