
Bogor-Cijulang – Kelompok Tani Lembah Batu Sofa mulai memperkuat langkah menuju pengembangan pertanian organik berbasis masyarakat melalui persiapan pembangunan demonstration plot (demplot) dan pusat pembibitan sebagai bagian dari Program Penguatan Pertanian Organik dan Ketahanan Pangan Berbasis Masyarakat. Program tersebut mendapat dukungan dari European Union (EU) melalui Yayasan Penabulu dan dilaksanakan oleh Jaringan Kearifan Tradisional Indonesia (JKTI).

Komitmen tersebut mengemuka dalam rapat koordinasi yang diselenggarakan di Lembah Batu Sofa pada Sabtu (11/7). Pertemuan dihadiri oleh anggota kelompok tani, pengurus kelompok, serta tim pendamping program untuk menyusun langkah-langkah teknis sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam pelaksanaan kegiatan di lapangan.
Rapat menghasilkan sejumlah keputusan strategis yang menjadi fondasi pelaksanaan program, mulai dari penetapan lokasi pembibitan, pembagian kelompok kerja, penyusunan jadwal gotong royong, hingga rencana pengadaan bibit dan sarana pendukung pembibitan.

Pendekatan yang digunakan dalam pertemuan menempatkan seluruh anggota sebagai pelaku utama pembangunan. Setiap keputusan dihasilkan melalui musyawarah sehingga mencerminkan kebutuhan, kesiapan, dan kapasitas masyarakat setempat. Model partisipatif ini diharapkan mampu meningkatkan rasa memiliki terhadap program sekaligus menjamin keberlanjutan kegiatan setelah masa pendampingan berakhir.
Salah satu keputusan penting dalam rapat tersebut adalah penetapan dua lokasi pembibitan yang akan menjadi pusat penyediaan bibit tanaman bagi anggota kelompok. Lokasi pertama berada di Pondok Pertemuan Kelompok di pinggir Kali Cileungsir kawasan Lembah Batu Sofa, sedangkan lokasi kedua ditempatkan di lahan depan rumah salah seorang anggota kelompok, Pak Sopian.
Keberadaan dua lokasi pembibitan dinilai strategis untuk meningkatkan kapasitas produksi bibit sekaligus memudahkan distribusi kepada petani. Selain menghasilkan bibit untuk kebutuhan program, fasilitas tersebut juga diharapkan berkembang menjadi pusat pembelajaran masyarakat mengenai teknik pembibitan tanaman, pengelolaan persemaian, hingga konservasi sumber daya genetik lokal.
Selain pembibitan, peserta rapat juga menyepakati pembangunan dua demonstration plot sebagai lahan percontohan penerapan praktik pertanian organic agroforestri. Demplot akan menjadi ruang belajar bersama bagi petani untuk mempraktikkan teknik budidaya yang ramah lingkungan, mulai dari pengolahan tanah, penggunaan pupuk organik, pengendalian organisme pengganggu tanaman secara hayati, hingga penerapan pola tanam yang mendukung keberlanjutan ekosistem pertanian.
Melalui kegiatan tersebut, petani diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teori, tetapi juga memiliki kesempatan untuk membandingkan secara langsung hasil budidaya organik dengan praktik konvensional. Pendekatan belajar melalui praktik lapangan menjadi salah satu metode utama dalam Sekolah Lapang Kampung yang dikembangkan JKTI bersama masyarakat.
Untuk mendukung pelaksanaan kegiatan, anggota kelompok juga membentuk dua kelompok kerja yang akan bertanggung jawab terhadap pengelolaan masing-masing demplot. Pembagian tugas dilakukan agar proses pelaksanaan lebih efektif, mendorong tanggung jawab bersama, sekaligus memperkuat kerja sama antarpetani.
Semangat gotong royong yang dalam bahasa kampung Cijulang disebut “andilan”menjadi salah satu nilai utama yang disepakati dalam rapat. Seluruh anggota kelompok menjadwalkan kegiatan gotong royong pertama pada hari Jumat, 17 Juli 2026. Agenda tersebut meliputi penyiapan lahan, pembangunan persemaian, pemasangan paranet, serta penataan lokasi pembelajaran lapangan.
Dalam pembagian tanggung jawab, pengurus kelompok akan melakukan verifikasi dan pemutakhiran data anggota sebelum pelaksanaan kegiatan. Sementara itu, pemasangan paranet dikoordinasikan oleh Pak Jaka bersama Pak Sopian. Tim Program JKTI bertugas memfasilitasi pengadaan bibit pohon serta berbagai kebutuhan sarana pembibitan yang dijadwalkan terealisasi pada minggu ketiga Juli 2026.
Rapat juga menghasilkan kesepakatan mengenai pendataan lahan milik anggota yang telah siap untuk ditanami. Data tersebut akan menjadi dasar penyusunan rencana distribusi benih, penjadwalan penanaman, serta pengembangan demplot pada tahap berikutnya. Dengan perencanaan yang lebih baik, program diharapkan dapat menjangkau lebih banyak petani sekaligus meningkatkan efektivitas penggunaan sumber daya yang tersedia.
Program Penguatan Pertanian Organik dan Ketahanan Pangan Berbasis Masyarakat dirancang tidak hanya untuk meningkatkan produktivitas pertanian, tetapi juga memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengelola sumber daya lokal secara berkelanjutan. Melalui pendekatan Sekolah Lapang Kampung, petani didorong menjadi pelaku utama inovasi dengan mengembangkan pengetahuan berdasarkan pengalaman, praktik lapangan, dan pertukaran pembelajaran antarpeserta.
Di sisi lain, pembangunan pembibitan lokal menjadi langkah penting dalam memperkuat kemandirian petani. Ketersediaan bibit yang diproduksi sendiri akan mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah sekaligus membuka peluang pelestarian varietas tanaman lokal yang memiliki nilai ekologis maupun ekonomi.
Program ini juga mendukung upaya penguatan ketahanan pangan masyarakat melalui diversifikasi tanaman, peningkatan kualitas lingkungan, serta penerapan praktik pertanian yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim. Pendekatan tersebut sejalan dengan berbagai agenda pembangunan berkelanjutan yang menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam pengelolaan sumber daya alam.
Bagi JKTI, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah demplot atau bibit yang dihasilkan, tetapi juga dari tumbuhnya kelembagaan kelompok tani yang kuat, meningkatnya kapasitas anggota dalam mengelola usaha tani organik, serta terbangunnya budaya gotong royong yang menjadi modal sosial masyarakat pedesaan.
Rapat koordinasi di Lembah Batu Sofa menjadi langkah awal yang menunjukkan kesiapan masyarakat dalam menjalankan program secara mandiri dan partisipatif. Kesepakatan yang dihasilkan memberikan arah yang jelas bagi seluruh tahapan kegiatan, mulai dari persiapan lahan hingga penanaman perdana yang akan dilaksanakan setelah seluruh sarana dan prasarana tersedia.

Melalui kolaborasi antara masyarakat, JKTI, Yayasan Penabulu, dan dukungan European Union, diharapkan kawasan Lembah Batu Sofa dapat berkembang sebagai contoh praktik baik pengembangan pertanian organik berbasis masyarakat. Pengalaman tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan kesejahteraan petani setempat, tetapi juga menjadi model pembelajaran yang dapat direplikasi di berbagai wilayah lain dalam memperkuat ketahanan pangan lokal dan menjaga keberlanjutan sumber daya alam Indonesia.
Disclaimer:
Materi dalam publikasi ini diproduksi oleh JKTI dengan dukungan Bersama dari Uni Eropa dan Yayasan Penabulu. Pendapat/pandangan yang dinyatakan dalam publikasi ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab JKTI dan bukan mencerminkan pendapat/pandangan Uni Eropa.

Leave a Reply