
Bogor, 20 Juni 2026 – Jaringan Kearifan Tradisional Indonesia (JKTI) secara resmi memulai pelaksanaan Program Pengembangan Pertanian Organik Agroforestri Berbasis Kearifan Tradisi untuk Memperkuat Ketahanan Pangan Lokal Komunitas untuk Daya Lenting Komunitas atas Perubahan Iklim melalui kegiatan sosialisasi yang diselenggarakan di Saung Lembah Batu Sofa, Kampung Cijulang, Desa Sukaharja, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor. Upaya membangun ketahanan pangan local, sesungguhnya tidak hanya bergantung pada praktik budidaya, tetapi juga pada keterlibatan aktif masyarakat dan penguatan kapasitas komunitas. Melalui Program CO-EVOLVE 2 yang didukung oleh Uni Eropa dan Yayasan Penabulu, JKTI melanjutkan pendampingan masyarakat di Kampung Cijulang ini setelah setahun sebelumnya telah memulai kerja sama bersama-sama petani di kampung ini.
Sosialisasi ini menjadi titik awal pendampingan JKTI bersama masyarakat selama pelaksanaan Program CO-EVOLVE 2. Selain memperkenalkan tujuan program, kegiatan ini menjadi ruang untuk membangun kesepahaman, memperkuat kolaborasi, dan menyusun langkah bersama menuju pertanian yang lebih berkelanjutan
Sekitar 45 peserta memenuhi Saung Lembah Batu Sofa, mulai dari pemerintah desa, Ketua RW dan RT, tokoh masyarakat, tokoh adat, penyuluh pertanian, Kelompok Tani Organik Lembah Batu Sofa hingga Karang Taruna. Suasana diskusi berlangsung hangat dengan banyaknya pertanyaan dan masukan mengenai peluang pengembangan pertanian organik di wilayah mereka.
Dalam sambutannya, Rasdi Wangsa, Koordinator Nasional JKTI, menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan pertanian berkelanjutan harus berangkat dari kekuatan masyarakat lokal dan nilai-nilai kearifan tradisional yang telah teruji selama bertahun-tahun.
“Kearifan tradisi merupakan fondasi penting dalam membangun sistem pangan yang berkelanjutan. Melalui program ini, JKTI ingin memperkuat kapasitas masyarakat agar mampu mengembangkan pertanian organik agroforestri yang produktif, menjaga kelestarian lingkungan, sekaligus meningkatkan ketahanan pangan keluarga dan komunitas di tengah tantangan perubahan iklim,” ujar Rasdi Wangsa.
Ketua RW 8, Kampung Cjulang, Desa Sukaharja, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, menyampaikan apresiasinya atas pelaksanaan program dan berharap komunikasi antara JKTI dan masyarakat terus terjalin selama proses pendampingan berlangsung. Ia juga secara resmi membuka rangkaian kegiatan sebagai bentuk dukungan pemerintah kampung terhadap pengembangan pertanian organik di wilayah tersebut.

Pada kesempatan yang sama, peserta memperoleh materi mengenai program Pertanian Organik Agroforestri dan Adaptasi Perubahan Iklim dari Ikhsan Mentong selaku Manager Program JKTI yang menjelaskan pentingnya pengelolaan lahan secara terpadu melalui kombinasi tanaman pangan, pepohonan, serta penggunaan input organik. Pendekatan agroforestri tidak hanya meningkatkan produktivitas lahan, tetapi juga menjadi salah satu strategi transisi hijau yang mengintegrasikan ketahanan pangan, konservasi lingkungan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Selain menjadi forum penyampaian informasi program, kegiatan sosialisasi juga menjadi ruang dialog antara masyarakat dan pelaksana program untuk mengidentifikasi potensi lokal, tantangan yang dihadapi petani, serta peluang kolaborasi dalam mendukung implementasi kegiatan di lapangan.
Di akhir kegiatan, masyarakat menyampaikan komitmen untuk mendukung pelaksanaan program serta berpartisipasi aktif dalam setiap tahapan kegiatan yang akan dilaksanakan. Dukungan tersebut menjadi modal sosial yang penting bagi keberhasilan program dalam membangun sistem pangan lokal yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan. Pasca sosialisasi ini, akan dilakukan beberapa kegiatan diantaranya Pertemuan Rutin Bulanan Kelompok Tani, Sekolah Lapang dan Pengelolaan demplot Pertanian Organiik Agroforestri

Melalui program ini, JKTI berharap dapat mengembangkan model pertanian organik agroforestri berbasis kearifan tradisi yang mampu direplikasi di berbagai wilayah Indonesia sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan daya lenting masyarakat terhadap perubahan iklim.
Tentang JKTI
Jaringan Kearifan Tradisional Indonesia (JKTI) adalah organisasi masyarakat sipil yang berkomitmen melestarikan, mengembangkan, dan memperkuat kearifan tradisional sebagai dasar pembangunan berkelanjutan. JKTI aktif mendampingi masyarakat dalam pengembangan pertanian organik, agroforestri, konservasi keanekaragaman hayati, ketahanan pangan lokal, serta penguatan ekonomi berbasis komunitas.
Informasi lebih lanjut:
Jaringan Kearifan Tradisional Indonesia (JKTI)
Sekretariat Nasional
Jl. Subur No. 22 C, Mekawangi, Tanah Sareal, Kota Bogor 16168
Email: rasdi.wangsa@jkti.net
Website: https://jkti.net
Disclaimer
Materi dalam publikasi ini diproduksi oleh Jaringan Kearifan Tradisional Indonesia (JKTI) dengan dukungan bersama dari Uni Eropa dan Yayasan Penabulu. Pendapat atau pandangan yang dinyatakan dalam publikasi ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab JKTI dan tidak mencerminkan pendapat atau pandangan Uni Eropa.

Leave a Reply