Sawo Belanda alias Bakesah

Buah Alkesaa atau Bakesah atau Sawo Belanda

Nama latin dari buah alkesa adalah Pouteria campechiana. Nama spesifik campechiana diambil dari Kota Campeche di Meksiko, yang merupakan salah satu tempat asli asal tumbuhan ini.

Sejarah penyebaran buah alkesa dari wilayah asalnya hingga ke Indonesia:

1. Asal-Usul (Zaman Kuno)

• Wilayah Asal: Pohon alkesa merupakan tanaman asli dari wilayah Meksiko bagian selatan dan Amerika Tengah, mencakup negara Guatemala, Belize, dan El Salvador. [1, 2]

• Konsumsi Purba: Suku bangsa kuno seperti Mayan dan Aztec tercatat sudah mengonsumsi buah ini sejak sekitar tahun 800 Sebelum Masehi (SM).

2. Penyebaran di Kawasan Amerika dan Karibia

• Abad ke-19 hingga ke-20: Dari wilayah asalnya, tanaman ini mulai menyebar luas ke negara-negara tetangga di Amerika Tengah, seperti Nikaragua, Panama, dan Kosta Rika.

• Kawasan Karibia: Alkesa kemudian dinaturalisasi di wilayah kepulauan Karibia seperti Kuba, Jamaika, Bahama, dan Puerto Riko. Dari Kuba inilah gerbang penyebarannya ke Asia dimulai.

3. Masuk ke Asia Tenggara dan Indonesia

• Jalur Filipina (1915): Pada tahun 1915, pohon alkesa dibawa dari Kuba menuju Filipina. Di Filipina, buah ini berhasil dibudidayakan dengan sangat baik dan dikenal dengan nama chesa atau tiesa.

• Menyebar ke Indonesia: Dari Filipina, tanaman ini menyebar ke wilayah Asia Tenggara lainnya, termasuk Malaysia dan Indonesia. Di Indonesia, buah ini diadaptasi dengan berbagai nama lokal seperti sawo mentega, sawo belanda, sawo ubi, hingga campolay.

Sejarah masuknya buah alkesa (Pouteria campechiana) ke wilayah Bogor erat kaitannya dengan zaman penjajahan Belanda dan fungsi Bogor sebagai pusat penelitian botani colonial di masa lampau.

Sejarah masuk dan berkembangnya buah alkesa di Bogor:

1. Dibawa oleh Pemerintah Kolonial Belanda

Meskipun penyebaran alkesa di Asia Tenggara berpusat dari Filipina pada tahun 1915, buah ini masuk ke Indonesia—khususnya wilayah Jawa Barat termasuk Bogor—melalui perantara pejabat atau pakar botani bentukan Pemerintah Kolonial Belanda. Karena diperkenalkan pada masa kolonial dan sering ditanam di area pekarangan gedung-gedung milik orang Belanda, masyarakat Sunda di Bogor dan sekitarnya kemudian menjuluki buah ini sebagai “Sawo Walanda” (Sawo Belanda).

2. Melalui Kebun Raya Bogor

Sebagai pusat introduksi tanaman asing terbesar di Hindia Belanda, Kebun Raya Bogor menjadi gerbang utama masuknya berbagai jenis flora eksotis dari Amerika Latin ke Indonesia, termasuk famili Sapotaceae (sawo-sawoan). Pohon alkesa awalnya ditanam di Bogor sebagai koleksi uji coba botani untuk melihat kecocokan iklim. Curah hujan Bogor yang tinggi dan tanahnya yang subur ternyata sangat mendukung pertumbuhan pohon ini, sehingga dapat tumbuh subur dan berbuah lebat tanpa perawatan khusus.

3. Menyebar ke Pekarangan Warga dan Menjadi Tanaman Khas

Dari area koleksi botani dan halaman rumah para petinggi Belanda, biji buah alkesa mulai menyebar ke masyarakat lokal Bogor. Karakteristik pohonnya yang rindang membuat warga Bogor sering menanamnya di pekarangan rumah sebagai pohon peneduh sekaligus konsumsi pribadi. Teksturnya yang legit mirip ubi rebus sangat cocok dengan selera lidah masyarakat setempat, yang kemudian melahirkan nama lokal lain seperti Sawo Mentega atau Sawo Ubi.

Status Alkesa di Bogor Saat Ini

Semakin Langka: Akibat alih fungsi lahan dan minimnya budidaya skala perkebunan, pohon alkesa di kawasan perkotaan Bogor kini semakin langka dan dikategorikan sebagai buah kuno. Sentra Terdekat: Saat ini, alkesa lebih banyak dibudidayakan secara tradisional oleh warga di area pedesaan yang berbatasan dengan Bogor, seperti wilayah Cianjur, Sukabumi, dan kawasan Bandung Barat (Rajamandala).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More Articles & Posts